Selasa, 20 Oktober 2009

Diserang Demam, Kiemas Lakukan Banyak Kesalahan

oleh Neta P. Nasution


TRIBUN, Jakarta – Ketua MPR Taufiq Kiemas rupanya masih seorang manusia yang tak lepas dari sergapan rasa grogi dan demam panggung. Itu terlihat saat suami ketiga Ketua DPP PDIP Megawati Sukarnoputri ini saat pertama memimpin Sidang Paripurna MPR dalam pelantikan presiden dan wakil presiden, Selasa (20/10) pagi.

Penampilan TK (Taufik Kiemas, red.) terlihat kurang mulus dan berwibawa. Pasalnya pria bertubu tambun ini berulang kali melakukan kesalahan penyebutan nama dan gelar yang seharusnya sudah familier. Kesalahan fatal pertama berawal dari kealpaan TK menyebutkan nama Jusuf Kalla dan Baharuddin Jusuf Habibie pada saat awal pidato pembuka paripurna.

Kekonyolan itu terulang dalam menyebutkan gelar yang melekat pada nama Susilo Bambang Yudhoyono. SBY, yang bergelar doktor, dilafalkannya sebagai "dokter". Setelah melakukan ralat beberapa kali, tetap saja dia mengulang kesalahan yang sama. "Bapak Dokter...eh Doktor Susilo Bambang Yudhoyono," demikian TK meralat kesalahannya yang terkadang disertai kata "maaf".

Kesalahan tak hanya pada penyebutan gelar. Saat menutup sidang paripurna, TK bahkan salah menyebut nama Susilo Bambang Yudhoyono, bertukar dengan gelarnya.

"Terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Doktor... maaf... Doktor Haji Susilo Bambang Yudhoyono," kata TK dengan sedikit gugup, disambut geerr kecil dari para anggota Dewan.

Putri TK, Puan Maharani, berdalih, kesalahan yang dilakukan ayahnya hanya persoalan teknis semata.

"Yang membantu dan menyiapkannya kurang sigap," kata Puan yang juga anggota DPR periode 2009-2014.

Namun, Puan sangat bersyukur kesalahan tersebut tidak mengganggu substansi acara sehingga acara masih dapat berjalan lancar hingga akhir. Dalam pidatonya, suami Ketum Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri ini berulang kali "keseleo lidah", yakni salah mengucapkan atribut nama, gelar, dan jabatan sejumlah tokoh penting yang hadir. Mulai dari melupakan nama BJ Habibie dan Jusuf Kalla, bahkan salah mengucapkan nama SBY.

BERAGAM RESPON
 
Sejumlah kesalahan pengucapan yang dilakukan Ketua MPR Taufik Kiemas dalam pidatonya di acara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Selasa (20/10), menimbulkan berbagai respon.

Ada yang berusaha memahami, ada pula yang terang-terangan protes. Presiden PKS Tifatul Sembiring yang juga Anggota DPR RI 2009-2014 berupaya berpikir positif dengan melihat aspek kewajaran untuk penampilan TK yang belepotan hari ini. "Sangat manusiawi namanya juga sudah tua," tuturnya.

Menurut Tifatul, kesalahan pengucapan yang dilakukan TK tidaklah esensial. Baginya, kesalahan itu tak mempengaruhi jalannya upacara pelantikan.

Sementara itu, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani punya respon berbeda. Muzani justru menuding TK tidak teliti sehingga berulang kali melakukan kesalahan pengucapan. Bahkan untuk istilah dokter dan doktor yang sebenarnya mudah sekali untuk dibedakan.

Di samping itu, Muzani menyayangkan peristiwa ini terjadi dalam agenda kenegaraan yang justru menjadi sorotan dunia karena dimuat di berbagai media asing. "Teliti kan lebih baik, ini event kenegaraan," ujarnya.

Putri TK, Puan Maharani yang juga hadir dalam acara ini dalam kapasitas Anggota DPR RI 2009-2014 mengatakan kesalahan pengucapan yang diucapkan ayahnya wajar saja. "Mungkin masalah teknis saja karena mungkin teknis pelaksanaannya kurang teliti dari teman-teman yang mendampingi," katanya. (net)

SBY Buat Sumpah Pelantikan Sebagai Proyeksi Tekadnya



oleh Neta P. Nasution

TRIBUN, Jakarta – Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono secara resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2009-2014 oleh MPR dihadapan sidang Paripurna MPR, Selasa (20/10) pagi. 

Keduanya mengucapkan sumpah sesuai Pasal 9 Undang-Undang Dasar 1945. Pengambilan sumpah dilakukan dengan didampingi seorang rohaniwan. 

Sumpah yang diucapkan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono atas jabatan yang akan diembannya selama lima tahun ke depan adalah:

"Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada nusa dan bangsa". 

Seusai pengucapan sumpah, SBY-Boediono bersama pimpinan MPR menandatangani berita acara pelantikan. Selanjutnya berita acara tersebut diserahkan oleh Taufiq Kiemas kepada SBY-Boediono.
Buat Sendiri
 
Sumpah yang demikian singkat, lugas, dan kental makna religius dan kenegaraan yang dibaca SBY-Boediono dalam pidato pelantikannya di Sidang Umum MPR, ternyata merupakan hasil karya SBY sendiri. 
 
"Beliau (SBY) membuat sendiri pidato pelantikannya," ujar Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng saat ditemui seusai pelantikan.
 
Waktu yang dibutuhkan SBY, menurut pria yang kental dalam dialek Mak asar ini, tida terlalu lama. Hanya butuh waktu kurang dari 10 menit. Singkatnya waktu tersebut, karena sumpah yang diucapkan SBY – Boediono merupakan proyeksi dari isi hati mereka yang paling dalam. Sehingga bahasanya sangat lugas, padat, dan memiliki makna yang dalam. (net)

Tragedi Lapindo, Noda dan PR Pemeritahan SBY II

oleh Prima Sp Vardhana
 


BANYAK permasalahan hukum dan HAM (Hak Asazi Manusia) tinggalan masa pemerintahan SBY pertama, yang berpeluang nyrimpeti kelancaran pemerintahan SBY kedua kalinya yang Selasa (20/10) pagi dilantik di Gedung MPR.

Kasus Lumpur Lapindo (KLL) yang melibatkan Taipan pribumi Abu Rizal Bakrie, misalnya. Tampaknya kasus ini semakin berat tatkala sebagian besar masyarakat, termasuk para pemilih SBY-Boediono saat Pilpres 2009, merasa tidak yakin SBY bisa menyelesaikan KLL.

Demikian yang disampaian Fajar Nursahid, Kepala Divisi Penelitian Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) dalam penyampaian hasil survei Pesan Publik untuk SBY-Boediono di kantornya, Jakarta, Selasa (20/10). Menurut dia, hasil survei yang dirilis LP3ES menunjukkan sebanyak 52 persen responden tidak yakin KLL akan selesai dalam 5 tahun pemerintahan SBY ke depan. Sedangkan 38 persen merasa yakin dan hanya 10 persen responden yang tidak menentukan sikap. Ketidakyakinan itu, juga dilihat dari pandangan masyarakat para pemilih 3 pasangan kadidat presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2009 lalu.

Masih dari hasil survei, 47 persen para pemilih SBY-Boediono menyatakan ketidakyakinannya bahwa pilihan mereka akan dapat menyelesaikan KLL. Sedangkan 43 persen responden merasa yakin dan 10 persen tidak tahu.

Bagaimana dengan para pemilih Mega-Prabowo dan JK-Wiranto? Ternyata besaran simpangannya sangat besar. Sebanyak 67 persen para pemilih Mega-Prabowo tidak yakin SBY dapat menyelesaikan KLL, dan hanya 29 persen yang yakin.

Lebih heboh lagi, para pemilih JK-Wiranto yang sebanyak 76 persen mengambil sikap tidak yakin dan hanya 19 persen yang yakin bahwa SBY akan menyelesaikan KLL. Lebih lanjut, LP3ES sendiri merasa prihatin dengan persoalan ini karena sudah lebih dari 3 tahun KLL tidak kunjung selesai.

"Fakta menunjukkan bahwa pemerintah tidak pro-aktif untuk menyelesaikan soal ini. Menganggap masalah Lapindo tidak penting," ungkap Suhardi Suryadi, Direktur LP3ES, dalam kesempatan yang sama. Survei ini merupakan hasil wawancara melalui telepon pada 14 dan 15 Oktober 2009.

Jumlah sampel 1.990 orang yang ditentukan secara sistematis berdasarkan buku telepon residential yang diterbitkan PT Telkom yang mewakili masyarakat pengguna telepon di 33 ibu kota provinsi. Sebesar 50:50 perempuan dan laki-laki yang mayoritasnya berusia 36-50 tahun dengan tingkat pendidikan akhir perguruan tinggi dan SMA. Margin of error lebih kurang 2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

"Soal biaya (dari kami) sendiri," demikian Suhardi Suryadi, Direktur LP3ES. (pvardhana88@gmal.com)

Tak Pernah Bertengkar? Justru Harus Curiga!


BERTENGKAR adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga. Jika seseorang berkata, "Saya tidak pernah bertengkar dengan pasangan," kemungkinannya hanya dua: orang itu belum menikah atau ia tengah berdusta. Bertengkar itu sebenarnya diskusi yang digelontori muatan perasaan. 

Jika mengetahui etikanya, dalam bertengkar pun kita bisa mereguk hikmah. Justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam. Perasaan mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan-pesannya kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi! 

Maria Herlina Limyati Msi Psi, dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, mengatakan, sesungguhnya yang jadi masalah bukan pernah atau tidak pernah bertengkar, melainkan bagaimana cara pasangan mengendalikan emosi agar pertengkaran tidak malah menimbulkan berbagai masalah baru dan berakhir dengan negatif. Kuncinya, tak lain, pola komunikasi, interaksi, keterbukaan, dan kepedulian dari masing-masing pasangan.

Jangan Ditahan!

Menurut Maria, tentu saja banyak keuntungan jika tak pernah bertengkar. Suasana rumah kondusif, tenang dan tidak tegang. Tapi suasana hati belum tentu, karena emosi yang tidak tersalurkan atau tidak terbuka, dapat menciptakan iklim psikologis lebih buruk dari pertengkaran itu sendiri. Masalahnya, amarah tak keluar atau tersalurkan.

"Bisa saja si istri yang memendam emosi, kemudian menyalurkan kepada anaknya. Anak salah sedikit, langsung dicubit atau dimarahi. Sementara suami, jika tak bisa menyalurkan emosinya dengan baik, bisa tak betah di rumah dan malah berulah macam-macam di luar rumah," katanya.

Maria menambahkan, emosi pasangan harus dikelola dengan baik. Nyatakan hal positif atau negatif yang dirasakan. Misalnya, "Aku merasa kesal karena..." Sebutkan alasannya dan jangan malah menyalahkan pasangan atas ketidak nyamanan perasaan yang Anda rasakan.

"Kalau memang ingin bertengkar, lakukan saja, tak perlu dipendam atau ditutupi karena bisa menimbulkan stres. Masalah memang harus diselesaikan dan dicari solusinya. Bicarakan secara baik-baik lalu cari titik temu. Lalu saling memaafkan dan tinggal berserah diri kepada Tuhan. Nyaman bukan?" tutup Maria.
(Mom& Kiddie//tty)

Senin, 19 Oktober 2009

Permen Bisa Bikin Si Kecil Jadi Kasar


SEJUMLAH peneliti di Inggris telah melibatkan lebih dari 17 ribu anak yang lahir pada tahun 1970 sebagai obyek penelitiannya selama 40 tahun. Salah satu penelitian tersebut dilakukan untuk mengetahui korelasi antara anak yang gemar memakan permen di masa kecil dengan karakternya saat dewasa. 

Dari anak-anak yang setiap harinya mengkonsumsi permen atau cokelat pada usia 10, sebanyak 69 persen pernah ditangkap karena kasus kekerasan ketika usianya sekitar 34 tahun. Hasil penelitian ini dipublikasikan oleh British Journal of Psychiatry.

Namun, ketika para peneliti ini memasukkan faktor kemampuan orangtua masing-masing anak itu dalam mendidik, dan variabel lain, seperti latar belakang sosial dan ekonomi mereka, masih terdapat hubungan erat antara konsumsi makanan manis di masa kecil dengan sikap kasar di masa dewasanya. Penelitian sebelumnya menyangkut makanan sehat pada anak-anak menghasilkan para responden menjadi sosok yang berkarakter kalem dan sopan.

Penelitian yang dibiayai oleh Britain’s Economic and Social Research Council ini menyatakan bahwa hasil penelitian ini memang masih memerlukan penelitian lebih mendalam. Simon Moore, dari University of Cardiff, salah satu penulis jurnal yang mempublikasikan penelitian ini mengatakan, bukan hanya permen atau gula-gula saja yang mempengaruhi karakter si anak, tetapi juga bagaimana anak-anak itu mengambil keputusan.

Para orangtua yang secara konsisten “menyuap” anak-anaknya agar berlaku baik dengan memberikan permen atau cokelat bisa jadi merusak cara penilaian anak-anak, bahkan hingga ia dewasa. Kebiasaan ini bisa membuat anak-anak tidak bisa belajar apa arti berterima kasih, sehingga mengantarkan mereka kepada sifat kasar dan suka bertindak semaunya.

Moore juga mengatakan, hasil penelitian ini tak cukup untuk membuat para orangtua di dunia menghentikan pemberian permen dan cokelat pada anak-anak. Target yang mereka teliti ini merupakan area yang sangat kompleks. “Tak adil jika menyalahkan sifat kasar seseorang di masa dewasa hanya pada permen atau cokelat yang ia makan saat masih kanak-kanak,” katanya. (AP/vd)


SMS Ria Polsek Tegalsari Bongkar Pesta Sabu-Sabu Tambak Asri

oleh Prima Sp Vardhana


TRIBUN, Surabaya - Setelah berhasil mengantarkan enam penjudi masuk tahanan, Rabu (14/10) dan Minggu (18/10), ternyata SMS Ria milik Polsek Tegalsari kembali berhasil mengungkap perilaku pelanggaran hukum yang terjadi di masyarakat.

Pelanggar hukum yang bernasib nahas itu adalah Noernawi bin Rasman (52). Kakek yang tinggal di Jl Tambak Asri Gang Tanjung, Surabaya, ini harus berurus dengan hukum, karena perilaku tidak terpujinya. Demi keinginannya menggelar pesta sabu-sabu, kakek bejat ini melibatkan cucunya yang masih berstatus pelajar SMA, Imron bin Untung (17) sebagai kurir untuk menjemput sabusabu pesanannya yang akan digunakan untuk pesta.

Menurut Noernawi, ia biasa menggelar pesta SS sejak satu tahun terakhir ini.  Perilakunya itu untuk mengisi waktu senggang. 

Imron merupakan cucu jauh Noernawi yang tinggal di gang berbeda dengannya. Demi sang kakek, dengan upah Rp 25.000, Imron bersedia mengambilkan SS dari Bandar Nurhasim bin Ridwan (24) warga Tambak Asri Gang Dahlia, sebanyak satu poket dengan berat satu gram. Kelakuan ketiga pelaku pelanggar UU RI no 5 tahun 1997 pasal 60 ayat 2, pasal 62 dan pasal 71, itu terungkap dari laporan masyarakat yang dikirimkan via SMS RIA ke Polsekta Tegalsari.

“Dalam SMS RIA itu menyebutkan Noernawi akan menggelar pesta SS di rumahnya. Selanjutnya kami meluncur ke rumahnya untuk melakukan penyelidikan,” kata Kapolsekta Tegalsari AKP Totok Sumariyanto, Senin (19/10).

Noernawi yang sudah bercucu kandung dua orang itu, menurut alumni SMA Negeri 7 Surabaya ini, kemudian ditangkap dengan barang bukti di laci meja rumahnya. Selanjutnya dari hasil pemeriksaan, Noernawi mengaku mendapatkan barang dari Nurhasim via Imron. Imron kemudian ditangkap dan diminta menunjukkan tempat Nurhasim. Dengan mudah, karena tinggal di daerah yang sama, Nurhasim ditangkap.

Selanjutnya ketiganya dibawa ke Mapolsekta Tegalsari. Sayangnya, Nurhasim sudah tidak bisa menunjukkan tempat dia mengambil barang senilai Rp 500.000 itu. “Nurhasim mengaku mendapat barang dari N (DPO) via ponsel. Ketika nomor ponselnya kami hubungi, ternyata sudah mati,” ujar Totok.  (vd)

Faktor Kesulitan Membuat Batik Tulis Mahal

oleh Neta P. Nasution


SIANG itu, arena pameran Karya Kreatif UKM 2009 di Balai Sidang Jakarta, Minggu (18/10), berjejal manusia. Pengunjung dewasa dan anak-anak berjibun jadi satu. Ada stan pameran yang laris manis diborong pengunjung, ada yang biasa-biasa saja. Namun ada juga yang seret, dengan berbagai penyebabnya.

Stan pameran batik tulis, misalnya. Seorang wanita berpenampilan molek dengan nama  

Farida (35) batal membeli selembar kain batik tulis setelah ia tahu harga yang ditawarkan. Penjual menyebut harga Rp 450.000 untuk selembar kain yang memikat hatinya.


Sebelum menanyakan harga, ia sudah meneliti beberapa kain. Setelah menemukan kain dengan corak yang dirasa pas, baru ia bertanya harganya. ”Tadinya mau buat bawahan kebaya yang beli di sini juga. Enggak jadi beli deh, mahal banget. Heran kenapa harganya bisa begitu,” gumamnya.


Keingintahuannya terjawab sebelum ia keluar dari arena pameran. Penyelenggara pameran menyediakan tempat demo bagi pengunjung. Beberapa perajin menyediakan bahan demo yang bisa digunakan pengunjung. Pengunjung bisa memilih kerajinan tangan di pojok arena demo atau membatik di bagian tengah arena.


Farida memilih tempat demo batik. Ia mencoba menggambar bunga. Belum 10 menit, ia sudah merasa susahnya membuat batik tulis. ”Kadang malam (tinta batik)-nya enggak mau keluar, kadang keluar kebanyakan, keluar sampai meleber ke mana- mana. Bikin batik susah banget, wajar harganya mahal,” ujarnya.


Ibu dua anak itu butuh hampir 20 menit untuk membuat motif kelopak bunga yang kurang memuaskan hasilnya. Tetapi, ia senang karena bisa merasakan pengalaman membuat batik. ”Kalau di televisi kelihatannya mudah sekali, sebentar saja langsung jadi motif. Waktu coba sendiri, susahnya minta ampun. Buat batik cap juga katanya susah dan lama. Kalau batik cetak mudah dan cepat, makanya bisa murah,” ujarnya.


Meski tahu susahnya membuat batik, ia tidak kembali ke gerai penjual kain batik tulis yang sebelumnya didatangi. Ia sudah cukup puas dengan beberapa baju batik yang motifnya hasil cetakan mesin. ”Ini sudah bagus kok, bisa buat ke kantor atau acara biasa,” ujarnya.


CANTING PANAS


Pengunjung lain, Dira (21), juga merasakan susahnya membatik. Kesusahan dirasakan mulai dari memegang canting. Alat untuk menorehkan malam ke kain itu terasa panas karena terus berada di kuali berisi malam. Kuali itu terus dipanaskan agar malam tetap cair dan bisa ditorehkan ke kain. ”Ini cantingnya panas, kelamaan di dalam kuali. Heran kenapa perajin-perajin itu enggak kepanasan,” tuturnya.


Sebelum malam bisa ditorehkan, canting harus ditiup dulu untuk melancarkan saluran ujungnya. Dira butuh melakukan beberapa kali sebelum bisa meniup dengan pas. ”Kalau meniup terlalu keras, malamnya muncrat ke mana-mana. Terus di kain meleber karena malam terlalu lancar mengalir dari canting. Kalau kelewat pelan, malam enggak mau keluar. Perajin-perajin di Pekalongan atau Solo itu sudah tiap hari niup canting, jadi kelihatan enak bener,” ungkapnya.


Uji coba di arena pameran itu membuat mahasiswi salah satu perguruan tingi swasta di Jakarta ini tahu kenapa batik mahal. Baginya, membeli batik bukan sekadar membeli kain. ”Pembeli lebih membayar untuk keahlian para perajin. Keahlian itu perlu latihan bertahun-tahun sebelum bisa membuat batik bagus-bagus,” tuturnya.


Motif-motif batik juga tidak sembarangan dibuat. Tiap motif memiliki landasan filosofi tersendiri. ”Kata teman dari Solo, tiap acara sebenarnya ada motif khusus. Bagi yang muda seperti saya sih, enggak terlalu ngerti. Cuma kalau dipelajari, menarik juga. Tetapi, saya sih belum punya batik tulis,” ujarnya.


Salah seorang teman kuliah Dira yang juga hadir di arena pameran, Arman, mengatakan, seharusnya ada lebih banyak pelajaran soal landasan filosofi dan nilai batik. Pelajaran itu akan mendorong orang mengerti dan menyukai batik. ”Sekarang orang pakai batik karena sedang tren. Kalau tren sudah habis, siapa mau pakai batik? Kan sama waktu sebelum tren, enggak ada orang mau pakai batik. Kesannya cuma orang tua yang pantas pakai batik,” katanya.


Tindak lanjut atas pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai Budaya Tak Benda Warisan Manusia seharusnya tidak berhenti sebatas anjuran memakai saja. Orang Indonesia harus diberi tahu lebih banyak mengapa UNESCO membuat pengakuan itu. ”Mungkin harus ada pelajaran lebih banyak soal sejarah batik pada masa lalu dan sekarang. Pelajarannya jangan kaku, nanti enggak menarik buat yang muda-muda,” ujarnya.


Pelajaran itu juga akan membantu orang Indonesia yakin batik memang dikembangkan bangsa ini. Jadi, orang Indonesia bisa menjelaskan kepada warga asing tentang batik. ”Waktu ada negara lain klaim batik, banyak yang marah. Tetapi, enggak semua ngerti kenapa harus marah karena enggak ngerti soal batik. Itu sebenarnya malah membuat citra Indonesia jadi jelek. Mending buat lebih banyak orang tahu soal batik biar makin banyak yang bisa jelasin soal batik,” ujarnya.


Cara seperti itu akan lebih diterima dan menarik simpati warga negara asing. Warga negara asing akan yakin batik memang warisan budaya asli Indonesia karena banyak orang Indonesia yang bisa menjelaskan soal batik. ”Sama juga dengan kepemilikan benda lain. Mana bisa ngaku punya sesuatu kalau enggak bisa jelasin sesuatu itu seperti apa,” tuturnya.


Namun, seperti Farida dan Dira, Arman belum punya koleksi batik tulis. Faktor harga jadi alasan utama ia belum memiliki busana dari batik tulis. ”Selain itu, rasanya sayang kain bagus dan mahal dipotong-potong buat baju. Mending buat yang lain aja deh,” tuturnya. (kompas cetak/berbagai sumber)

Minggu, 18 Oktober 2009

8 Kebiasaan yang Bisa Merusak Hubungan



TAK jarang suatu hubungan rusak hanya karena kebiasaan kecil yang dilakukan oleh salah seorang dari pasangan. Hubungan yang sudah sangat erat dan tak mungkin terpisahkan pun bisa buyar karena masalah yang dianggap “sepele”. Majalah Glamour mendaftar sifat-sifat apa saja yang bisa memicu keretakan hubungan Anda dan si dia. Ini daftarnya;

1. Tidak bisa menerima
Menginginkan kekasih Anda untuk bisa mengeluarkan yang terbaik dari dirinya adalah hal yang baik. Namun, jangan sampai Anda ingin melakukan perubahan dalam diri si suami hingga ke penampilannya. Cobalah untuk menerima si dia apa adanya. Jika memang apa yang ada padanya sebegitu parahnya dan sudah saatnya diubah, maka usahakan untuk mengatakannya dengan baik-baik. Jangan sampai Anda mengkritik atau memaksanya untuk berubah drastis. Karena pesan yang akan ia terima hanyalah, “Kamu nggak cukup baik untuk aku.”

Cobalah berlakukan aturan 80-20. Maksudnya, ketika Anda sedang bersamanya, utarakan apa yang Anda kagumi tentangnya, lakukan hal ini sebanyak 80 persen. Hingga ketika Anda mengatakan hal yang tak Anda sukai tentangnya, maka hal itu tak akan terdengar sebagai salah satu poin daftar keburukannya di mata Anda. 

2. Mood mudah berubah
Kita hidup dalam zaman yang membuat orang tegang. Tak heran ketika stres melanda, kita bisa marah-marah kepada pasangan. Dalam kehidupan sehari-hari, perubahan mood yang mendadak bisa dimaafkan. Namun, bayangkan jika kita hidup bersama pasangan yang sering mengalami mood swing (perubahan mood yang drastis). Anda pasti akan berlari menjauh. Nah, jika Anda merasa sedang mengalami masa-masa mood swing (biasanya menjelang haid), cobalah untuk mengalihkan pikiran Anda dari hal-hal yang bisa membuat Anda ingin marah.  

3. Gosip
Tak ada yang mau dijadikan bahan gosip. Maka, ketika Anda sedang ada masalah dengan si dia, usahakan untuk mencoba menyelesaikannya secara dewasa. Cobalah mengurangi keinginan untuk menceritakan setiap detail masalah Anda dengan pasangan ke orangtua atau sahabat terdekat. Tak hanya Anda akan merasa malu ketika masa bertengkar itu usai, tapi Anda juga akan membuat si dia merasa dikhianati. Sebagai pasangan, ada baiknya Anda menjaga rahasia antara Anda dan dia berdua saja daripada merusak reputasi Anda dan pasangan di mata orang lain.

4. Melodrama
Jika Anda terus-menerus meneleponnya setiap kali ada teman kantor yang membuat Anda sebal, menghapusnya dari daftar teman di Facebook, atau mengancam putus setiap kali ada perbedaan pendapat, jangan heran kalau ia mencari wanita lain. Adalah hal yang melelahkan jika kita harus selalu berusaha menenangkan pasangan yang suka mendramatisasi keadaan setiap saat.

5. Jadi ibu kedua
Suami Anda pasti mencintai ibunya, dan ia pun pasti mencintai Anda. Namun, ketika Anda setiap hari memperlakukannya seperti anak kecil, maka Anda akan membuatnya ingin lari dari Anda. Anak-anak cenderung melakukan kebalikan dari apa yang diperintahkan orangtuanya, ketika perintah tersebut tak mau ia lakukan. Hal ini pun berlaku pada kehidupan berpasangan yang memiliki tipe hubungan layaknya ibu-anak (yang terlalu mengemong). 

6. Terlalu sering bersama
Menghabiskan waktu bersama orang yang Anda cintai adalah salah satu keuntungan dalam berhubungan, namun ada perbedaan dengan memiliki hubungan dari kembar siam. Banyak pria tertarik pada wanita yang mandiri dan percaya diri. Namun, tak jarang wanita yang awalnya memiliki karakter tersebut berubah 180 derajat begitu memiliki pasangan. Wanita bisa jadi sangat bergantung, dan menuntut waktu yang sangat banyak dari pasangannya. Sesekali luangkan waktu untuk Anda sendiri atau bersama teman-teman Anda. Biarkan ia juga menikmati waktunya sendiri. Tahukah Anda apa keuntungan dari menikmati "me time" seperti ini? Anda jadi sering merindukan si dia, selain jadi punya bahan obrolan. 

7. Cemburu
Meski ia seringkali mengingatkan Anda betapa ia mencintai Anda, namun hal itu tak menghentikan Anda untuk mengecek ponselnya kala ia sedang mandi. Atau, terus-terusan ngambek setiap kali melirik wanita cantik. Kecemburuan kecil memang sesekali diperlukan dalam sebuah hubungan. Namun menuduhnya selingkuh atau membombardirnya dengan pertanyaan setiap kali ia pergi sendiri pun, akan membuat orang paling sabar sedunia menjerit. Periksa sekali lagi, jangan-jangan kecemburuan Anda terhadap si dia tidak berdasar. 

8. Terlalu nyaman
Pada awal hubungan, kedua pihak harus memastikan bisa mencari cara untuk bersikap terbaik. Namun, seiring berjalannya waktu dan rutinitas, kita cenderung jadi pemalas dan tidak mau mengusahakan agar hubungan tetap hangat. Manusia senang untuk dirayu dan digoda, sama seperti Anda juga. Yang menyenangkan dari sebuah hubungan adalah menemukan hal-hal baru dari pasangan dan mencoba hal baru bersamanya. Ketika seorang wanita berhenti untuk berusaha menampilkan yang terbaik dari dirinya kepada pasangan, si pria akan merasa bahwa pasangannya tak lagi menyukainya. Tunjukkan pada pasangan Anda bahwa ia masih sangat berharga di mata Anda. Caranya dengan memberikan kejutan-kejutan manis untuknya. Ia akan menghargai usaha Anda dan berusaha untuk membalasnya.

Sumber: Glamour

Jumat, 16 Oktober 2009

Ada UFO Lewat Langit Blok M


TRIBUN, Jakarta - Sebuah benda terbang asing atau unidentified flying objects (UFO) melayang di atas sebuah apartemen di Jalan Pakubuwono atau dekat Blok M, Jakarta Selatan, beberapa hari lalu.

Benda yang diduga UFO alias piring terbang itu dipotret seorang warga yang menolak identitasnya dicantumkan. Foto tersebut diterima Warta Kota melalui Facebook, Kamis (15/10).

Menurut pemotret, obyek tersebut tidak sengaja tertangkap kamera. Saat itu dia sebenarnya sedang memotret bangunan apartemen di Jalan Pakubuwono VI, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dari dalam mobil.

Ketika hasil jepretan diamati dengan teliti, ternyata ada benda asing yang melayang di atas apartemen itu. Ketika citra benda asing itu diperbesar, benda itu tampak seperti piring dengan sejumlah jendela di bagian bawah, mirip piring terbang dalam film fiksi ilmiah buatan Hollywood.

Namun, saat Warta Kota menelitinya, foto ini ternyata tak ada metadatanya. Hingga semalam belum ada keterangan resmi mengenai keaslian foto tersebut. Mungkinkah benda itu benar-benar UFO yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai benda terbang yang aneh (beta)?

Semalam, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Adi Sadewo Salatun mengatakan baru tahu mengenai rumor penampakan UFO di Jakarta itu dari media massa. Namun, Salatun juga mengatakan, bahwa penampakan benda-benda asing luar angkasa memang sulit untuk diidentifikasi.

”Penampakan benda-benda seperti itu memang sulit dikenali. Hal itu bergantung situasi yang memungkinkan, dia dapat terdeteksi atau tidak, misalnya tertangkap secara tak sengaja dalam bentuk visual seperti yang sering terjadi selama ini,” katanya.

”Selama ini, jika ada laporan soal benda-benda asing, kami langsung menyelidiki kebenarannya, seperti dugaan jatuhnya meteor di Bone, Sulawesi, pekan silam. Dalam kejadian-kejadian seperti itu, masyarakat umumnya tidak memberikan laporan resmi ke Lapan dan beritanya hanya beredar di media,” kata Adi.

Sementara itu, Muhammad Irvan, aktivis Ufonesia (komunitas pengamat UFO), mengaku belum melihat foto tersebut. Menurut dia, selama 2009, laporan tentang beta-UFO lebih sedikit dibanding tahun 2008. ”Laporan terakhir datang dari Bandung, tepatnya di Dago. Tapi itu belum bisa kami duga sebagai UFO, kami masih ragu,” ujarnya dalam perbincangan dengan Warta Kota, semalam.

Irvan mengatakan, untuk menentukan sebuah benda asing di angkasa sebagai UFO, perlu dilakukan pengamatan lebih jauh. Pasalnya, bisa saja benda tersebut adalah pesawat atau bias cahaya matahari.

”Pertama harus dilihat foto atau videonya. Yang paling dasar adalah pengamatan dengan mata orang awam dan dari pemikiran awam, apakah itu benar-benar obyek (UFO) atau debu di lensa kamera,” paparnya.

Jika benda aneh itu patut diduga UFO, temuan tersebut akan dibahas oleh sesama peneliti ufologi. Irvan juga mengatakan, jika saksi mata pada kasus UFO Blok M lebih dari satu orang, maka investigasi lebih lanjut bisa dilakukan.

Sebelumnya pada Kamis (8/10) siang, warga Bone, Sulawesi Selatan, dikejutkan dengan ledakan di angkasa yang didahului oleh cahaya api yang bergerak dengan cepat dan meninggalkan asap tebal.

Warga sempat menduga cahaya dan ledakan itu berasal dari pesawat Sukhoi TNI AU yang meledak di udara. Namun, pihak TNI AU membantah dan menyatakan tidak ada pesawat Sukhoi yang melintasi Bone pada hari itu.

Diculik UFO

Nur Agustinus, aktivis Komunitas Beta-UFO, beberapa waktu lalu menyatakan bahwa penampakan UFO kerap terjadi di tiga kota, yakni Jakarta, Bandung, dan Cirebon. Oleh karena itu, Komunitas Beta-UFO menyebut ketiga daerah itu dengan istilah Segitiga UFO di Indonesia.

Pada tahun 2000, Beta-UFO menerima laporan dari Cirebon tentang seorang bocah berusia enam tahun yang diculik UFO. Bocah itu terpisah dari teman-temannya saat beranjak pulang setelah bermain-main di kebun tebu. Belakangan, bocah yang namanya dirahasiakan itu mengaku diajak main oleh lima makhluk aneh yang badannya bersisik.

Menurut si bocah, dia hanya sebentar bermain-main dengan kelima makhluk aneh tersebut. Namun, keluarganya kalang kabut lantaran si bocah dua minggu menghilang. Nur Agustinus juga mencatat bahwa UFO biasanya muncul saat Bumi sedang mengalami fenomena alam, seperti gempa, gunung meletus, dan badai.

Di situsnya, Komunitas Beta-UFO menyatakan bahwa selama tahun 2007 ada 32 laporan penampakan beta-UFO di Indonesia yang 11 di antaranya terjadi di wilayah Jabodetabek. Sebagian di antaranya tidak berupa berkas cahaya. Sementara itu, sepanjang 2008 tercatat ada 34 laporan tentang penampakan beta-UFO dari seluruh Indonesia dan 13 di antaranya terjadi di wilayah Jabodetabek.

Pada Januari 2006, Yudi, warga Pondokgede, Bekasi, mengaku melihat lima berkas cahaya di angkasa. Saat itu, Yudi sedang bersantai bersama keluarganya. Pengalaman yang sama dialami Riyogarta Luwiyana, warga Bintaro, Tangerang, seperti tertuang di blognya.

Pada 26 Maret 2006, saat dalam perjalanan ke sebuah rumah makan di Bintaro, Riyogarta dan istri melihat benda aneh di langit. Benda tersebut memiliki ekor pendek warna hijau dan bekerlap-kerlip.

Sementara itu, pada Desember 2008, seorang warga Petukangan, Jakarta Selatan, merekam sejumlah titik cahaya di langit yang berpindah-pindah dengan cepat. Rekaman video tersebut dikirim dan disiarkan di sebuah stasiun televisi. Menanggapi rekaman ini, peneliti Lapan, Sri Loka Prabotosari, menyatakan belum bisa memastikan benda asing tersebut.

Jufri (38), warga Petukangan, mengaku merekam fenomena tersebut dan mengunggahnya ke YouTube. Jufri mengaku menyaksikan fenomena ganjil itu bersama teman-temannya. Saat itu, mereka sedang membakar sate di pelataran rumah ketika sejumlah berkas cahaya dalam formasi tertentu bergerak di angkasa. (nic/Warta Kota)

Rabu, 14 Oktober 2009

Penyelenggaraan Porprov II Jatim Menyalahi UU Keolahragaan

oleh Prima Sp Vardhana


TRIBUN, Surabaya - KONI Jawa Timur "kebakaan jenggot" mendengar KONI Surabaya mengkritisi penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II di Kota Malang pada 5-10 Oktober 2009. Kritik yang dilontakan Sekretaris Umum KONI Kota Surabaya Hoslih Abdullah, menyangkut penyelewengan SK Gubernur Jatim soal kegiatan Porprov II yang menghabiskan dana APBD sekitar Rp8,5 miliar.

Kepanitiaan Porprov II Jatim tahun 2009, menuru dia, ditetapkan melalui SK Ketua Umum KONI Jatim Imam Utomo. Bukan berdasar SK Gubernur Jatim seperti yang diamanatkan dalam UU nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN). Pada pasal 48 UU itu disebutkan, pemerintah daerah bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pelaksanaan pekan olahraga daerah.

"Artinya, gubernur sebagai kepala daerah tetap sebagai penyelenggara Porprov, bukan KONI Jatim. Untuk melaksanakan Porprov, Gubernur harus mengeluarkan SK kepada KONI Jatim. Faktanya, SK Gubernur Jatim tidak pernah ada sampai Porprov II berakhir," kata Hoslih saat dihubungi ponselnya.

Dalam pertemuan terakhir KONI kabupaten / kota sebelum pelaksanaan Porprov II, KONI Surabaya sempat mempertanyakan kembali masalah SK Gubernur Jatim yang menetapkan struktur kepanitian Porprov II tersebut. Ironisnya KONI Jatim tak pernah menggubris dan seakan-akan cenderung menutup-nutui kebenaran yang harus dilaksanakan.

"Jauh sebelum itu, kami sudah mengingatkan KONI Jatim, tapi tidak pernah ditanggapi. Kami bukan mencari-cari masalah, tapi sekadar ingin meluruskan hal-hal yang kurang benar. Sikap kami ini demi kepentingan bersama dan menyelamatkan dana APBD dai kebocoran dengan kedok penyelenggaraan Porprov II," kata Hoslih menegaskan.

Sikap kritis yang dilakukan KONI Surabaya itu ada benarnya, bahwa dalam pelaksanaan Porprov II terjadi banyak kebocoran dana APBD yang sengaja dilakukan oleh PB Porprov II yang terdiri dari para pengurus KONI Jatim, yang secara rakts kurang profesional. Misalnya, di sektor upacara pembukaan dan penutupan Porprov II yang ditangani Gatot Tantre. Untuk upacara pembukaan dan penutupan yang terselenggara dala GOR Ken Arok, Malang, menurut sumber di KONI Jatim, dana yang dihabiskan sekitar Rp. 800 juta. Padahal upacara pembukaan dan penutupan tersebut jauh dari kemeriahan, sehngga dana yang dihabiskan tak akan lebih dari Rp 400 juta.

Penyelewengan lain yang terlihat mencolok terjadi pada penyelenggaraan cabang olahraga Pencak Silat yang menelan dana sekitar Rp 180 juta. Padahal peserta yang bertanding kurang dari peserta Kejurda Penca Silat Jatim, yang rata-rata menelan dana penyelenggraan maksimal sekitar Rp 70 juta. Artinya secara teknik ada selisih Rp 110 juta dalam penyelengaraan cabor tersebut.

Selan itu, cabor yang digelar oleh pengurus KONI Jatim H. Fanan Hasanudin itu diselenggarakantanpa mengajukan rancangan anggaraan biaya secara rinci sebagaimana yang dilakukan cabor-cabor lain. Dalam fotocopy buku rencana anggaran pembiayaan yang dimiliki Tribun Online, rencana anggaran biaya cabor pencak silat hanya tertulis Rincian I Rp 165 juta (bukti telah menerima suntikan dana dari KONI Jatim), tambahan Rp 15 juta, sehingga menerima total dana Rp 180 juta. Tak pelak lagi halaman rencana biaya cabor pencak silat itu tidak ditandatangani oleh Koordinator Panitia Pelaksana Drs. Heru Widijoto, MS., Ketua Pelaksana Ds. Eddy Pitarn, Tim Verifikasi Dana Drs. Imam Buchori, MM., dan Ketua Bidang Pertandingan Drs. Irmantara Subagio, M.Kes.

Kendati demikian, secara hukum pihak KONI Jatim harus mempertanggungjawabkan. Pasalnya pihak KONI Jatim sebagaimana Nota Dinas yang dikirimkan Tim Verifikasi Drs. Ima Buchori, MM. pada Ketua Harian KONI Jatim Soekarno Marsaid per tanggal 29 September 2009 tentang pengajuan dana pelaksanaan pertandingan Porprv Jatim II per cabor itu, mencantumkan catatan item satu, bahwa tim verifikasi tidak merekomendasi penelenggaraan cabor Pencak Silat.Pasalnya sampai Nota Dinas itu dibuat, cabor Pencak Silat beum menyeahkan RAB (Rencana Anggaran Biaya) untuk diverifikasi.

Uniknya, walau belum menyerahkan RAB, tapi panpel cabor Pencak Silat telah menerima kucuran dana dari KONI Jatim, masing-masing sebesar Rp. 165 juta dan lewat Koordinator Panpel Drs. Heru Widijoto, MS., sebesar Rp 2 juta. Artinya, walau tanpa mengajuan RAB sebagaimana aturan yang dietapkan dan dilaksanakan 19 panpel cabor lain, ternyata panpel cabor Pencak Silat sudahmenerima kucuran dana segar Rp 167 juta.

SESUAI MEKANISME


Walau data yang dimiliki Tribun Online membuktikan, bahwa terjadi penyelewengan penggunaan dana APBD Jatim sekitar Rp 8,5 Miliar dalam penyelenggaraan Porprov II Jatim 2009. Demikian pula dalam menetapkan Kepanitiaan Porprov II Jatim yang menyalahi UU nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN), khususnya pada pasal 48, ternyata Ketua Harian KONI Jatim Soekarno Marsaid dalam jumpa pers di ruang kerjanya, Rabu (14/10) siang, tetap ngotot jika pelaksanaan Porprov II tersebut tidak melanggar undang-undang dan sudah sesuai mekanisme yang berlaku.

"Secara yuridis formal, penyelenggaraan Porprov II tidak menyimpang dan melanggar UU. Penyelenggaraannya sudah sesuai payung hukum," kata mantan Bupti Sumenep yang kita tercatat sebaga politkus dari Partai Hanura ini.

Soekarno Marsaid mengutip Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2007 pasal 16, yang menyebutkan ayat (1) Penyelenggaraan pekan olahraga provinsi atau pekan olahraga kabupaten/kota menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota, ayat (2) Pelaksanaan penyelenggaraan pekan olahraga provinsi atau pekan olahraga kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditugaskan kepada komite olahraga provinsi atau komite olahraga kabupaten/kota, ayat (3) Pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota selaku penanggungjawab penyelenggaraan pekan olahraga provinsi atau pekan olahraga kabupaten/kota menetapkan tempat penyelenggaraan dengan memperhatikan: poin a. kemampuan dan potensi calon tuan rumah; b. ketersediaan prasarana dan sarana; c. dukungan masyarakat setempat; d. pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga calon tempat penyelenggaraan; dan poin e. usulan dari komite olahraga provinsi atau komite olahraga kabupaten/kota.

Kemudian Soekarno juga menegaskan, bahwa KONI Jatim telah mendapatkan Surat Keputusan (SK) Gubernur yang memberi mandat sebagai penyelenggara dan kepanitiaan. "Kami segera melaporkan hasil Porprov ini kepada gubernur, termasuk penggunaan anggarannya," tambah Soekarno Marsaid tanpa menunjukkan SK Gubernur yang dimaksud. (rim)