Minggu, 19 April 2009

INKAI Juarai Kejurda Karate Jatim 2009


oleh Prima Sp Vardhana

SEBAGAIMANA prediksi perguruan lain pasca perpecahan perguruan Lemkari, Inkai (Institut Karate-Do Indonesia) Jatim berhasil memborong medali Kejurda Karate Jatim 2009 di GOR CLS Jl . Kertajaya Indah, Surabaya. Medali yang diborong dalam kalender even FORKI Jatim selama tiga hari, 17 – 19 April, sebanyak 22 emas, 16 perak dan 21 perunggu.
“Sukses perguruan kami menjuarai Kejurda forki Jatim ini tidak hanya membanggakan kami, tapi juga menjadi sebuah beban moral yang hars kami pertahankan pada tahun mendatang,” kata Ketua harian Inkai Jatim, Ir. Prwanto seusai penobatan predikat juara umum.

Sukses ini, menurut ia, merupakan hasil pembinaan intensif selama setahun terakhir. Selain latihan, perguruan juga rajin mengirimkan atlet ke kejuaraan di berbagai jenjang, mulai dari kejuaraan setingkat daera, regional, hingga nasional. Sedangkan peringkat runner-up ditempati kontingen Institut Karate-Do Nasional (Inkanas) Jatim dengan 16 emas, 8perak, dan 11 perunggu. Tempat ketiga diisi kontingen Lemkari (Lembaga Karate-Do Indonesia) dengan 9 emas, 4 perak, dan 12 perunggu.

Bagi Fork Jatim penyelenggaraab tahun ini merupakan sebuah kejutan dalam merenda sistem pembinaan karateka. Bagaimana tidak. Even sekelas kejuaraa daerah ini berhasil diikuti 843 karateka dari 17 perguruan dan 24 Forki cabang. Sedangkan kelas yang dipertandingkan sebanyak 69 buah.

Partai bergengsi itu pun berakhir dengan susunan juara sebagai berikut Kelas under 21 putri di rebut Sofia dari Forki Sidoarjo, yunior putri Marthina Inkai Jatim, senior putri Noni Ayu Forki Malang, under 21 putra Samsul Inkanas Jatim, yunior putra Angga L Inkanas Jatim dan senior putra Hengki dari Inkanas Jatim.

Hasil Kejurda ini, menurut Ketua Umum Forki Jatim Totok Lusida didampingi Ketua Harian Johanes Kunto, nantinya akan diproyeksikan untuk tampil dalam Kejurnas. Para Juara junior akan ditampilkan dalam Kejurnas Piala endagri, sementar juara senior akan dikirimkan dalam Kejurnas Piala KSAD.

“Para karateka juara Kejurda ini berkesempatan menggusur karateka Puslatda PON XVIII, senyampang mereka mamp mendulang medali emas. Sebaliknya untuk karateka Puslatda yang gagal mencuri emas Kejurnas akan langsung ditendang dari kamp Puslatda,” kata Totok Lusida dengan suara blak-blakan. (pvardhna88@gmail.com)

Selasa, 07 April 2009

Ekstrak Meniran Terbukti Cegah Influenza Jemaah Haji


PEMBERIAN Phyllanthus niruri atau ekstrak meniran bersamaan dengan multivitamin dapat mengurangi risiko Penyakit influenza-like illness (ILI) pada jemaah haji Indonesia selama menjalankan ibadah haji.

Demikian paparan DR.Masdalina Pane, SKM, MKes dan koleganya yang meneliti khasiat meniran untuk mencegah ILI pada jemaah haji Indonesia dari subdirektorat kesehatan haji Depkes RI di Jakarta, Senin (30/03).

Isu kesehatan pada jemaah haji Indonesia selalu menjadi topik hangat tiap tahunnya. Penyakit ILI yang merupakan salah satu Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang sering ditemukan pada jemaah haji Indonesia berdasarkan laporan tahunan pelaksanaan haji.

Masdiana menjelaskan influenza-like illness (ILI) secara klinis didefinisikan sebagai ISPA yang disebabkan oleh virus dengan gejala utama batuk kering, demam tinggi sekitar 38,5 derajat celcius, rasa lelah berlebihan, nyeri otot, meriang, demam, sakit kepala, tenggorokan dan hilang nafsu makan.

Ia mengatakan berdasarkan data laporan tahunan penyelenggaran haji, hampir 60% jemaah haji Indonesia tiap tahunnya terkena ISPA, dan 85% nya merupakan ILI dan hanya 15% saja yang benar-benar influenza.

Masdalina mengatakan selama ini jemaah haji Indonesia hanya diberikan vaksin Meningitis meningocous secara gratis sebelum berangkat ke tanah suci. Sementara itu bagi jemaah yang memerlukan vaksin tambahan, biasanya akan diberi vaksin influenza sesuai permintaan jemaah.

Namun menurutnya pemberian vaksin influenza juga tidak dapat mencegah individu terserang ILI, karena strain patogen virus yang menyebabkan ILI berbeda dengan influenzea.

Berangkat dari permasalahan tersebut, maka subdirektorat kesehatan haji Depkes RI bersama dengan Divisi alergi-imunologi klinik departemen penyakit dalam FK UI, RSCM dan didukung oleh PT Dexa Medica mengadakan penelitian dan uji klinis untuk pencegahan ILI pada jemaah haji Indonesia.

dr.Iris Rengganis, SpPD, KAI, salah satu peneliti yang melakukan uji klinis terhadap jemaah haji dari departemen ilmu penyakit dalam FKUI mengatakan penelitian ini dilakukan pada 309 jemaah haji Indonesia tahun 2007/2008(1428 H) dengan kisaran usia 18-65 tahun yang secara klinis dinilai sehat oleh tim kesehatan haji.

"Dalam penelitian ini jemaah dibagi sebara acak menjadi tiga kelompok," ujar Iris. Kelompok pertama dan kedua hanya diberikan Phyllanthus niruri atau multivitamin saja. Sedangkan kelompok satunya lagi diberikan kombinasi keduanya.

"Produk uji kita berikan dengan dosis dua kali sehari untuk kapsul Phyllanthus niruri 50 mg dan sekali sehari untuk tablet multivitamin selama 40 hari yang meliputi seminggu sebelum berangkat dari tanah air dan selama perjalanan haji," jelas Iris.

Selama mengikuti penelitian, subyek tidak diperkenankan minum suplemen lainnya. Setelah 40 hari uji coba, selanjutnnya dilakukan evaluasi klinis. Menurut Iris, dari hasil evaluasi klinis didapat data yang menunjukkan pemberian Phyllanthus niruri tunggal kepada kelompok pertama menunjukkan penurunan jumlah jamaah yang terjangkit ILI menjadi 10,5%, kelompok multivitamin tunggal sebesar 12,7 %, dan kelompok kombinasi sebesar hanya 8,1%.

"Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang mendapatkan kombinasi keduanya dapat menekan kemungkinan terkena ILI paling kecil diikuti dengan kelompok yang mendapat meniran tunggal. Baru setelah itu kelompok yang hanya mendapat multivitamin," tutur Iris.

Menurutnya kesimpulan yang didapat adalah pemberian Phyllanthus niruri bersamaan dengan multivitamin dapat mengurangi risiko ILI pada jemaah haji Indonesia selama menjalankan ibadah haji.

Sementara itu peneliti sub bagian patologi Universitas Airlangga, DR.Drs.Suprapto Maat, MS.Apoteker pada kesempatan yang sama menjelaskan bahwa ekstrak tanaman Phyllantus niruri telah dibuktikan secara klinis oleh peneliti yang bernama Thabrew dapat meningkatkan aktivitas sistem komplemen melalui jalur klasik yang pada akhirnya dapat meningkatkan sitotoksisitas sel natural killer (NK) untuk menambah daya tahan tubuh.

sumber: KOMPAS

Minggu, 29 Maret 2009

Pimpinan Sementara KPK Harus Penuhi Lima Kriteria


oleh Prima Sp Vardhana

PENANDATANGANAN Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Perubahan UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mengatur penggantian tiga pimpinan KPK yang telah dinonaktifkan, sepaket dengan pembentukan Tim Lima untuk memilih penggantinya.


Menhuk dan HAM Andi Matalatta, Menko Polhukam Widodo AS, Wantimpres Adnan Buyung Nasution, pengacara Todung Mulya Lubis, dan mantan pimpinan KPK Taufiequrahman Ruki ditunjuk untuk merekomendasi para calon pengganti sementara.


Belum ada kriteria khusus yang dilansir Tim Lima, tetapi Indonesian Corruption Watch (ICW) mengajukan sejumlah kriteria sebagai masukan untuk Tim Lima. "Pertama, pimpinan tidak dari kalangan dekat presiden. Kedua, tidak boleh diintervensi langsung secara politik, atau merupakan bagian dari parpol atau simpatisan parpol yang akan membahayakan independensi KPK," tutur Koordinator Bidang Hukum ICW Febri Diansyah dalam keterangan pers, Rabu (29/3).


Ketiga, ICW menolak pimpinan pengganti yang berasal dari jaksa atau pejabat polisi yang masih aktif karena pada awalnya, KPK sendiri dibentuk dengan latar belakang kegagalan dalam penegakan hukum oleh keduanya.


Keempat, jika pimpinan KPK berasal dari kalangan advokat maka ICW menolak calon yang pernah menjadi pembela terdakwa kasus korupsi. Kriteria kelima adalah syarat-syarat utama yang harus dipenuhi, ungkap Febri, yaitu memiliki integritas sepanjang rekam jejaknya sebelum mencalonkan diri, tidak pernah melanggar UU, bersifat kompromi terhadap koruptor atau tidak tegas dengan advokasi umum.


"Ini bisa dilakukan dengan pengamatan masyarakat atau investigasi rekam jejak oleh Tim Lima," ujar Febri. Yang tak kalah pentingnya, lanjut Febri, adalah harta kekayaan si calon. Calon lebih baik tak memiliki kekayaan yang lebih dari level jabatannya. (vd/kom)

Senin, 16 Maret 2009

Soekarwo Tak Berani Ungkap Dana Puslatda Jatim 100/II


oleh Prima Sp Vardhana

BENDE pertempuran PON XVIII Riau 2012 sudah didengungkan KONI Jawa Timur, dengan meresmikan Puslatda pada 16 Maret. Sebanyak 575 personel yang terdiri atas 435 atlet dan sisanya ofisial memadati GOR CLS Kertajaya, Surabaya, tempat program yang diberi nama Puslatda Jatim 100/II itu diresmikan. Gubernur Jatim Soekarwo yang melantik mereka.

Dalam sambutannya, gubernur yang baru dua bulan menjabat tersebut menuntut para atlet untuk mempertahankan gelar juara umum yang diraih di PON Kaltim. Seraya berjanji memberi dukungan penuh, dia optimistis Jatim bisa mengulang kejayaan di Riau tiga tahun mendatang.

Optimisme Soekarwo dilandasi oleh tiga hal yang dimiliki Jatim. Yakni, atlet yang punya kemauan keras, pelatih yang mumpuni, dan organisasi yang mendukung. “Di Jatim, saya lihat koordinasi antara tiga elemen itu bagus sekali. Jika koordinasi itu bisa dipertahankan, saya yakin juara umum bisa diraih kembali,” tegas pria yang akrab dengan sebutan Pakde tersebut.

Sayang, tuntutan plus optimisme tinggi dari orang nomor satu di Jatim tersebut tidak dibarengi dengan jaminan untuk sektor pendanaan. Soekarwo tidak berani menyebut besaran anggaran yang disiapkan pemerintah untuk puslatda jangka panjang yang digeber hingga menjelang PON itu. Dia juga tidak menganggap keterbatasan sarana latihan di Jatim sebagai kendala serius pencapaian prestasi.

“Dana itu memang penting, tapi bukan yang nomor satu. Yang lebih penting adalah semangat atlet untuk latihan keras. Kalau ada uang tapi atletnya tidak mau latihan, kan tidak mungkin bisa juara. Karena itu, sarana bukan faktor yang menentukan,” ucap Soekarwo.

Sebagai gambaran, untuk periode pertama puslatda ini, pemerintah provinsi mengalokasikan Rp 48 miliar dari APBD. Kalau mengacu ke sistem Puslatda Jatim 100 jilid pertama, tiap tahun alokasi anggaran itu selalu meningkat, bahkan di tahun terakhir mencapai Rp 67 miliar karena ditambah pos untuk bonus atlet.

“Saat ini APBD untuk tahun-tahun ke depan kan belum diukur. Jadi, soal ada peningkatan atau tidak, saya belum bisa menjawab,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umum KONI Jatim Imam Utomo menegaskan, semua cabor harus mulai latihan setelah puslatda dikukuhkan. Jatim harus berpacu dengan waktu karena rahasia sukses PON Kaltim lalu sudah diketahui provinsi lain. Kini, hampir semua daerah menjalankan puslatda dengan sistem yang persis seperti di Jatim.

“Kita sudah berbaik hati membagi-bagikan resep keberhasilan di PON Kaltim. Kalau semua daerah punya sistem latihan yang sama, kita harus berusaha lebih keras,” tegasnya. Mekanisme Puslatda Jatim 100 jilid kedua ini memang tidak banyak berbeda dengan pendahulunya.(pvardhana88@gmail.com)

Puslatda PON XVIII Jatim Digelar, Imam Kritisi Kebijakan KONI Pusat



oleh Prima Sp vardhana

KETIDAKPASTIAN Cabang Olahraga (Cabor) yang akan dipertandingkan dalam PON XVIII/2012 di Riau, dipertanyakan KONI Jawa Timur. Ketua Umum KONI Jatim, H. Imam Utomo mengharapkan kepastian tersebut, karena sangat menentukan fokus konsentrasi setiap daerah dalam menyelenggarakan penggemblengan atlet daerah. Selain itu, kepastian tersebut sangat berpengaruh dalam prestasi atlet, khususnya di nomor-nomor terukur untuk memenuhi target prestasi pemecahan rekornas, rekor PON, dan rekor asia.

Demikian kritikan Imam Utomo seusai peresmian Puslatda PN XVIII/2012 oleh Gubernur Jatim H. Soekarwo di Gor Kertajaya, Senin (16/3) pagi.


Harapan Imam, KONI Pusat hendaknya mengubah sistem kebijakan dalam penyelenggaran PON. Selama ini, KONI Pusat selalu menganut kebijakan misteri dalam menentukan cabor yang dipertandingkan dalam even paling prestisius di jagat Indonesia. Bahkan dalam penyelenggaraan PON XVII/2008 lalu. Sehingga membingungkan KONI daerah dalam menyelenggarakan sistem pembinaan atlet Puslatda PON.


“KONI Pusat sudah saatnya mengubah sistem kebijakan dalam penyelenggaraan PON yang selama ini membingungkan daerah. Cabor yang dipertandingkan hendaknya segera dipastikan, sehingga daerah lebih terkonsentrasi dalam membina atletnya dan persaingan di PON XVIII Riau akan menghasilkan prestasi yang berpotensi medali emas SEA Games ataupun ASEAN Games,” kata mantan orang nomor satu di Jatim ini.


Selama ini, dinilainya, kepastian cabang yang dilagakan di PON XVIII Riau sangat tidak jelas. Tidak heran, banyak daerah menjadi kebingungan dalam menggelar Puslatda. Dus, KONI daerah dipaksa melakukan prakiraan yang tidak memiliki kepastian dalam menggelar Puslatda mereka. Misalnya, menggelar Puslatda dengan Cabor yang hanya dipertandingkan dalam SEA Games atau pun ASEAN Games saja. Namun, juga ada daerah yang menggelar Puslatda dengan pembatasan atlet yang cabornya di PON XVII mendulang emas, seperti yang dilakukan Jawa Timur.


“Memang ada cabor yang sudah diketahui akan dilombakan. Tapi, kepastiannya khan belum. Hal ini akan kita pertanyakan ke KONI Pusat dalam Raparnas di Jakarta nanti,” ujarnya.


Selain kepastian cabor, menurut ia, Jatim juga akan mengusulkan agar cabor yang dipertandingkan di PON disesuaikan dengan SEA Games. Sebab, level SEA Games lebih tinggi dibanding PON. ”Jangan sampai atlet juara PON, nantinya tidak bisa berlaga di SEA Games. KONI Jatim juga akan berupaya agar cabor andalan yang tak dilombakan di SEA Games bisa dipertandingkan di PON, seperti panjat tebing,” tambahnya.


Soal mutasi atlet, Imam juga sependapat dengan penolakan daerah lain terhadap mutasi atlet sebelum PON. “Semua daerah sepakat tolak mutasi. Hanya saja, harus ada keputusan KONI Pusat yang bersifat mengikat, Kami berharap jangan sampai kasus-kasus mutasi atlet di PON XVII kembali terulang lantaran ketidaktegasan KONI Pusat,” ujarnya


Sedangkan Gubernur Jatim H. Soekarwo saat meresmikan penyelenggaraan Pusalatda PON XVIII Jatim 100/II, mengatakan, bahwa kesuksesan sebuah daerah dalam even PON bergantung pada tiga tiang pokok utama, yaitu keberadaan atlet potensial, pelatih yang piawai menggembeleng prestasi, serta KONI yang memiliki program pembinaan yang bijaksana dan obyektif.


“Jatim saat ini telah memiliki tiga tiang pokok tersebut, harapan saya ketiganya mampu melaksanakan Puslatda PON XVIII dalam sebuah sinergi yang harmonis,” katanya.


Hubungan antara atlet, pelatih dan KONI Jatim, menurut ia. tidak bisa dipreteli untuk berdiri sendiri-sendiri. Namun merupakan sebuah kesatuan yang satu dengan lainnya harus saling melekat. Senyampang tiga unsur pendongkrak prestasi itu bersinergi dengan harmonis, dia yakin di PON XVIII Riau nanti Jatim mampu dan bisa kembali menjadi juara umum seperti di PON XVII lalu.


“Seorang pelatih dengan program pembinaan yang bagus tidak akan mampu melahirkan sebuah juara apabila tidak didukung atlet bagus dan berpotensi. Sebaliknya atlet ber-skill bagus juga tidak akan jadi juara jika tidak memiliki pelatih yang baik, Apabila simbiosis antara atlet dan pelatih ini bagus serta saling mendukung tetapi gong terakhirnya, yakni KONI tidak bagus, maka perjuangan atlet dan pelatih dalam menggembeleng diri akan sia-sia dan masuk tong sampah,” katanya.


Soekarwo juga mengucapkan terima kasih kepada Imam Utomo, karena mampu mengantarkan KONI Jawa Timur merebut predikat juara umum PON XVII/2008 Kaltim. Selain itu, prestasi yang diukir juga sangat luar biasa. Dari 100 medali emas yang ditargetkan, ternyata kontingen Jawa Timur berhasil mendulang 139 medali emas, 114 perak, dan 111 perunggu.


Sedangkan Humas KONI Jatim Fonumero Ziraluo yang populer dipanggil Fonzir mengatakan, Puslatda Jangka Panjang PON XVIII Jatim ini merupakan obsesi KONI sejak tahun lalu. Program Puslatda Jangka Panjang tahun ini, Jatim menetapkan nama Jatim 102. Artinya di PON XVIII Riau mendatang, Jatim akan menargetkan perolehan medali emas sebanyak 102 atau lebih banyak dibanding PON XVII Kalimantan Timur lalu.


Cabor yang masuk Puslatda, dikatakan, dibatasi 32 cabor dengan kriteria cabor perorangan terukur yang berhasil mendulang emas PON XVII Kaltim. Jumlah atletnya 439 orang. Sedangkan cabor permainan dan lainnya, penyelenggaraan Puslatdanya akan menyusul berdasarkan perkembangan prestasi yang mereka dulang hingga dua tahun menjelang pelaksanaan PON XVIII tahun 2012. (pvardhana88@gmail.com)

Kamis, 22 Januari 2009

Warga Gali Sendiri Situs Majapahit


WARGA Dusun Klinterejo, Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Selasa (20/1), melakukan penggalian sekaligus pemindahan peninggalan Majapahit yang ada di atas tanah mereka. Hal itu dilakukan karena tidak ada upaya penyelamatan serius yang dilakukan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jatim sekalipun temuan-temuan sejarah tersebut telah dilaporkan sejak tiga tahun lalu.

Sekitar 20 warga desa sejak Selasa pagi menyiapkan sebuah mobil bak terbuka di lokasi yang berdekatan dengan Situs Klinterejo. Situs itu mengandung banyak peninggalan Kerajaan Mapajahit seperti sandaran arca, yoni, lumpang batu, jaladwara, balok batu, dan umpak batu. Mereka mengangkat sejumlah umpak batu ke mobil dan memindahkan umpak batu itu ke Situs Klinterejo yang dikenal pula sebagai petilasan Bhre Kahuripan atau Ratu Tribhuana Tunggadewi.

Selain umpak-umpak batu tersebut, warga juga membuka sejumlah sumur kuno yang ada di lokasi itu. Ada sekitar 10 sumur dengan diameter masing-masing 80 sentimeter. Selain itu, terdapat pula struktur batu bata yang kemungkinan bangunan tembok pada sisi barat tanah warga.

Kekecewaan warga

Kepala Dusun Klinterejo M Shofii (33) mengatakan, apa yang dilakukan warga adalah bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang mengabaikan peninggalan bersejarah itu. Ia menyatakan, jika memang pemerintah, dalam hal ini BP3 Jatim, menginginkan agar struktur dan peninggalan purbakala itu tetap lestari, harus ada kompensasi yang layak bagi warga.

”Soalnya kami juga menyewa tanah ini. Namun, yang jelas kami lakukan ini untuk menyelamatkan benda-benda cagar budaya peninggalan zaman dulu,” kata Shofii soal kondisi lahan yang saat ini digunakan untuk pembuatan batu bata tersebut.

Zainal Abidin, Sekretaris Desa Klinterejo, membenarkan bahwa tanah yang sekarang diusahakan warga dan berdekatan dengan Situs Klinterejo itu adalah tanah kas desa (TKD). ”Luasnya 2,5 hektar dan warga menyewa dengan harga Rp 25 juta setiap tiga tahun. Ini sudah masuk tahun keempat,” katanya.

Menurut Zainal dan Shofii, sejak lahan tersebut dipakai untuk pembuatan batu bata, warga sudah melaporkan soal temuan-temuan kuno yang diduga peninggalan Kerajaan Majapahit itu. Namun, karena ketiadaan respons pemerintah, dari sekitar 40 umpak batu besar yang pada tiga tahun lalu ditemukan warga kini hanya tinggal tersisa tidak lebih dari 15 buah umpak batu.

Demikian pula dengan kondisi sumur purbakala yang sekalipun masih utuh tetapi bagian atasnya sudah terkepras. Kerusakan paling parah terjadi pada struktur batu bata yang hancur akibat penggalian tanah guna bahan baku pembuatan batu bata.

Tiga anggota staf Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jatim yang datang ke lokasi begitu mengetahui aksi warga itu memastikan temuan tersebut adalah peninggalan zaman Majapahit.

”Kemungkinan ini adalah pendapa mengingat ada temuan umpak dan bekas genteng yang hancur,” kata Ning Suryati, arkeolog yang sehari-hari bertugas di bagian pemugaran BP3 Jatim.

Pada tahun 2002, di lokasi tersebut pernah dilakukan ekskavasi dengan menggunakan metode spit berupa penggalian pada titik-titik tertentu berjumlah sepuluh kotak. Namun, upaya ekskavasi awal tersebut tidak dilanjutkan. (prima/kompas)

Rabu, 07 Januari 2009

Pahit Sejarah Emas Majapahit


SUNGGUH keterlaluan, rentang waktu 25-an tahun ternyata bikin sosok dan rupa orang menjadi kusut dan kisut. ”Masku sudah lima tahunan kena stroke karena hidupnya ngawur. Sekarang tidak aktif nyari dan dagang emas buddho lagi. Doakan saja,” ujar istri rekan yang menyebut Masku untuk suaminya.

Pertemuan bulan Agustus tahun lalu di desa kecil kawasan Mojokerto, Jawa Timur, semacam temu kangenan dengan narasumber lama. Masku yang nama samaran, tahun 1980 sampai 1990-an terkenal sebagai ”pedagang” emas Majapahit, secara hukum memang melanggar hukum, tetapi kok kebal ya. Padahal, Masku pernah mengaku sebagai salah satu bandar dan ”dalang” pencarian relik arkeologis, spesialis di situs kuno bekas Kerajaan Majapahit.

Bagi kolektor dan peneliti arkeologi, Masku itu narasumber paten dan tidak segan-segan memperlihatan hasil ”temuannya” berupa pecahan benda terakota, keramik china, dan terutama benda emas kuno. ”Di kalangan pedagang, emas galian itu kami sebut emas buddho, mungkin karena agamanya orang Mojopait ya,” begitu katanya waktu segar walafiat.

Pasaran emas dagangan Masku dihitung per gram dan selalu minimal lebih dari dua kali lipat harga emas toko. ”Emas cincin ini kadarnya 18 sampai 20 karat. Namun karena hiasannya bagus, harganya lima kali harga emas di toko,” begitu kira-kira kata Masku saat belum stroke.

”Saya bisnis karena permintaan pasar emas antik asal Jawa. Harganya tak pernah turun, tetapi kalau yang ini, cuma dua kali lipat. Namun, saya ragukan keasliannya, ini barang tembakan he-he,” ujarnya.

Masku tidak pernah menuturkan sindikat organisasi pencari emas buddho itu. Padahal, peneliti arkeologi lapangan suka senep melihat rombongan warga Trowulan sering sekali ramai-ramai menjadi tukang ngendang alias tukang gali dan pencari artefak arkeologis. Juga beberapa tahun lalu, pengendang itu tidak segan-segan masih menggali dan mengayak tanah dan lumpur di seputaran Kolam Segaran—kini proyek taman dan Pusat Informasi Majapahit (PIM).

Konon pada masa kejayaan Majapahit, Kolam Segaran itu tempat pesta foya-foyanya keluarga kerajaan. Gelas, pinggan, dan peralatan makan minum dari emas kalau sudah dipakai langsung dilemparkan ke tengah kolam. Makanya, pengendang yang mengobok-obok kolam itu mungkin berdoa menemukan bokor, baki, atau baskom emas buddho.

Emas Pahit

Emas memang daya tarik, bukan zaman sekarang saja, tetapi sejak zadulnya Majapahit sudah merupakan patokan suatu kejayaan dan kekayaan. Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca tahun 1365 menyebutkan dalam beberapa pupuh, hal iring-iringan raja Majapahit yang menghias kereta dengan perhiasan emas.

Juga dalam setiap pesta besar, semua peralatan pesta dan perjamuan terbuat dari emas berhiaskan permata indah, termasuk kotak sirih pinang berbalut emas. John Miksic dalam bukunya, Old Javanese Gold (1989), juga mengutip syair pujangga Majapahit itu, khususnya soal perisai dan hulu keris emas sebagai hadiah penghargaan buat ksatrianya.

Emas memang logam luhur. Bukan hanya Majapahit, tetapi semua kerajaan kuno di Jawa mengagungkan pemanfaatan emas sebagai benda murni dan gengsi. Sebab, sejak lama, ada sebutan Suvarnadvipa yang arti harfiahnya ”Pulau Emas”. Kata ini berbeda dengan Javadvipa yang bermakna ”Pulau Makmur”. Meski ada kata ”java”, kata itu bukan asal muasal nama Pulau Jawa.

Mas Masku di zaman jaya-jayanya pernah memperlihatkan sekotak perhiasan emas cakep- cakep, berbentuk cincin, anting, gelang, bandul, cepuk, semacam kancing, butiran uang emas dan perak, cepuk, cawan, serta perhiasan logam kuning kemerahan emas lainnya. ”Barang ini dari Jawa Tengah dan situs di seputaran Jawa Timur, tidak semua dari Trowulan,” ujar Masku yang saat itu lagi deal business dengan antique dealer dan collector emas buddho dari Singapura.

Awal 1990, Masku juga membisniskan perhiasan emas temuan Situs Wonoboyo, Klaten, Jateng. Tidak segan-segan Masku pun memamerkan ratusan uang emas-perak sebesar jagung pipilan, cincin, cepuk, dan lainnya.

Profesor Doktor Mundardjito yang arkeolog UI, saat itu sempat bingung sedikit. Dia mengaku sejauh ini belum ada penelitian konsep asal muasal emas menjadi ”rajanya” logam mulia. Juga dunia penelitian arkeologi kuno Jawa sejauh ini belum pernah menemukan titik terang mana di mana asal usul pertambangan emas kuno, serta makna keanekaragaman seni- kriya perhiasan emas di wilayah Jawa.

Sejauh ini, catatan klasik hanya menyebutkan nun di arah timur India, ada lokasi yang didatangi saudagar India untuk membeli dan mencari chryse atau emas. Juga dalam peta kuno dalam kitab Geographike Hyphegenesis karya Claudius Ptolomeus buatan abad II Masehi agak jelas menyebutkan di timur India ada Chryse Chora atau Negeri Emas, serta Chryse Chenosenos atau Semenanjung Emas.

Namun, kitab kuno yang mencatat emas dan Jawa ada dalam kitab China yang menulis sejarah Jawa kuno antara abad VIII-IX Masehi. Sejarah T’ang Baru menulis: ”Raja Jawa mengenakan pakaian emas dan permata”. Lalu suatu kronik China bertarikh 992 menyebutkan, serombongan utusan tiba di China, membawa hadiah persembahan dari seorang Raja Jawa berupa: ”sebilah pedang pendek berhulu emas”, serta ”kain tenun benang emas”. Bahkan, ada tambahan kalimat, di antara rombongan utusan itu, ada orang mengenakan ”rantai emas melilit di leher, serta gelang emas di pergelangan tangannya”.

Soal uang emas juga tercatat dalam berita China bertarikh 1406, ketika sekitar 170 prajurit China yang terbunuh dalam ”perang saudara” di Majapahit. Lalu utusan Majapahit pun mendatangi China seraya membawa ”upeti maaf” senilai 60.000 tail emas. Sementara itu, pelaut Portugis, Tome Pires, melaporkan, pada tahun 1515 ”orang di Jawa itu sangat kaya raya, begitu makmurnya sampai-sampai kalung anjing pun dari emas”!

Emas, emas, emas, itu kata- kata sejak zaman Majapahit sampai zaman rada pahit. Emas buddho di zaman Masku bisnis emas ilegal katanya masih tetap dicari di seputaran situs kuno yang terus terang sulit dijaga dan dirawat.

Bahkan, kalau melihat sekilas peta pembangunan Gedung PIM, di sekitaran situs permukiman kuno Kerajaan Majapahit, wah rada-rada pahit.

Sebab, dari pengalaman serta informasi Mundardjito dan Masku, justru di situs itulah orang-orang sering menemukan benda arkeologis berharga.

Benda itu bernilai tinggi, khususnya bagi koleksi sejarah Nusantara. Namun, anehnya pembangunan ambisius PIM di situs tersebut justru tidak pedulikan kandungan ”isi lahan” di bawah proyek itu.

Kalau Masku cs pernah menggali liar, kini orang proyek PIM menggali resmi, tetapi sama-sama merusak dan menghilangkan bukti kebesaran sejarah Majapahit. Ah pahit! (Rudy Badil Wartawan Senior di Jakarta/ kOMPAS)

Selasa, 06 Januari 2009

Kronologi Kota Majapahit


1292
Raden Wijaya, atas izin Jayakatwang, membuka Hutan Tarik menjadi permukiman yang disebut Majapahit. Nama ini berasal dari pohon Maja yang berbuah pahit di tempat ini.

1293
Raden Wijaya memanfaatkan tentara Mongol untuk menggulingkan Jayakatwang di Kediri. Memukul mundur tentara Mongol, lalu ia naik takhta sebagai raja Majapahit pertama pada 12 November.

1293-1478
Kota Majapahit menjadi pusat kemaharajaan yang membentang dari Sumatera ke Papua. Kawasan urban yang padat dihuni oleh populasi yang kosmopolitan dan menjalankan berbagai macam pekerjaan. Kitab Negarakertagama menggambarkan keluhuran budaya Majapahit dengan cita rasa yang halus dalam seni, sastra, dan ritual keagamaan.

1478-abad ke-19
Majapahit runtuh akibat serangan Demak. Kota ini berangsur-angsur ditinggalkan penduduknya, tertimbun tanah, dan menjadi hutan jati.

Awal abad ke-19
Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Jawa 1811-1816, menerima laporan penemuan reruntuhan bangunan dan candi terpencar di kawasan hutan jati Trowulan.

24 April 1924
Oudheidkundige Vereeneging Majapahit (OVM) didirikan atas prakarsa Bupati Mojokerto KAA Kromodjojo Adinegoro dan Ir Henri Maclaine Pont untuk meneliti Majapahit.

1926
Museum Purbakala Trowulan dibuka untuk menyimpan dan menampilkan hasil penelitian OVM.

1 Juli 1987
Museum Trowulan dipindahkan ke gedung baru di lokasi yang sekarang.

2007
Pencanangan proyek Pusat Informasi Majapahit (PIM).

Des 2008
Proyek pembangunan gedung PIM merusak situs Segaran III dan IV./*

Proyek Informasi Majapahit Disarankan Direlokasi


DI tengah maraknya berbagai kecaman dan seruan untuk menghentikan pembangunan Pusat Informasi Majapahit, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik hari Senin (5/1) menyatakan akan menghentikan sementara pembangunan Pusat Informasi Majapahit tersebut.

Pusat Informasi Majapahit (PIM) memancing komentar dari kalangan arkeolog dan arsitek karena proses pembangunannya telah merusak situs kawasan Trowulan, ibu kota Kerajaan Majapahit yang berjaya pada abad ke-13.

Jero Wacik, kemarin, memerintahkan penghentian sementara pembangunan PIM di lahan situs Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Menteri menilai perlu dan penting melakukan pertemuan dengan pemangku kepentingan agar proyek PIM tetap bisa berjalan dengan baik.

”Semalam saya rapat, hari ini ada rapat lagi dengan arkeolog. Arsitek akan saya panggil lagi. Kami rapikan dulu gambarnya. Niat baik membangun PIM harus dilaksanakan dengan baik.

Karena itu, tindakan saya yang pertama, proyek distop dulu. Stop sementara,” ujar Jero Wacik kepada Kompas saat memberikan klarifikasi tentang situs tersebut.

Seperti diberitakan Kompas (5/1), pembangunan PIM seluas 2.190 meter persegi telah merusak situs Majapahit. Dalam penggalian lubang-lubang untuk tiang pancang beton ditemukan sejumlah peninggalan bersejarah, seperti dinding sumur kuno, gerabah, dan pelataran rumah kuno. Semua peninggalan bersejarah itu
diserakkan begitu saja.

”PIM dan Majapahit Park dibangun untuk mengangkat kebesaran Majapahit agar seluruh bangsa ini tahu bahwa kita mewarisi kerajaan besar. Majapahit adalah kerajaan yang mewariskan ajaran toleransi dan harmonisasi yang tinggi. Tidak ada niat pemerintah merusak situs. Saya bertanggung jawab melestarikan
situs. Bagaimana caranya biar tetap ada Pusat Informasi Majapahit dan Majapahit Park tetap jalan,” ujarnya.

Pemantauan di lapangan kemarin menunjukkan terjadinya eskalasi penjagaan di sekitar lokasi pembangunan yang ditutupi pagar seng. Sejumlah pengunjung diminta meninggalkan tas di depan loket penjagaan.

Direktur Eksekutif Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) Catrini P Kubontubuh yang berkunjung ke Kompas kemarin menyatakan, BPPI kemarin melayangkan surat kepada Jero Wacik yang isinya mendesak penghentian pembangunan PIM dan melakukan rehabilitasi situs yangtelanjur rusak. Kebijakan Dirjen Sejarah dan Purbakala pada 19 Desember 2008 agar menghentikan pembangunan untuk sementara tidak ditanggapi pelaksana proyek.

Sementara itu, arsitek Bambang Eryudhawan dari Ikatan Arsitek Indonesia DKI Jakarta, yang juga anggota Dewan Pimpinan BPPI, menilai pemerintah telah memberikan contoh buruk karena merusak situs-situs bersejarah.

Penanggung Jawab Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia (PATI) I Irma M Johan menyesalkan kerusakan tersebut. ”Tentu kami sangat prihatin,” kata Irma yang juga Ketua Departemen Arkeologi Universitas Indonesia.

PATI I adalah kegiatan ekskavasi di situs Trowulan pada tahun lalu oleh 20 dosen dan 80 mahasiswa dari Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Udayana. Mereka bercita-cita mengupas situs secara keseluruhan.

Pertimbangkan kembali

Ketua DPR Agung Laksono menilai perencanaan pembangunan PIM kurang matang. Agung meminta proyek itu segera dikaji ulang dan meminta pemerintah tidak memaksakan proyek itu apabila terbukti berdampak negatif.

Agung mengutarakan hal itu di sela-sela kunjungannya ke Kota Salatiga, Jawa Tengah, kemarin. Menurut dia, pemerintah harus segera mengkaji kembali proyek
itu dan segera dihentikan jika proyek itu membawa dampak negatif.

Ahli arkeologi dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, menyarankan agar proyek pembangunan PIM ini direlokasi ke tempat lain di sekitar Trowulan
yang tidak mengenai situs Majapahit. Dengan alokasi dana sekitar Rp 25 miliar, bukan hal sulit bagi pemerintah untuk mencari lahan kosong yang cukup.

Menurut Dwi, dulu Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pernah membentuk tim untuk mencari lokasi strategis. Hasil studi kelayakan yang dilakukan tim merekomendasikan lahan di sekitar Kompleks Gapura Wringin Lawang di Desa Jati Pasar yang berada di tepi Jalan Raya Trowulan—satu kilometer dari lokasi PIM sekarang, di tepi jalur Surabay a-Yogyakarta.

Mengenai pemilihan lahan, sejak tahun 1995 pihak museum sudah mengajukan proposal pengadaan lahan kepada pemerintah pusat, tetapi hingga kini tak ada jawaban mengenai hal itu. (prima/kompas)

Situs Majapahit Dirusak Pemerintah


SITUS Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, sengaja dirusak pemerintah. Di bekas ibu kota Kerajaan Majapahit peninggalan abad ke-13 hingga ke-15 tersebut sedang dibangun Trowulan Information Center atau Pusat Informasi Majapahit seluas 2.190 meter persegi.

Peletakan batu pertama dilakukan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, 3 November lalu. Meski dalam perjalanannya ditemukan sejumlah peninggalan bersejarah, seperti dinding sumur kuno, gerabah, dan pelataran rumah kuno, hal itu tak dihiraukan. Tanah terus digali dan benda bersejarah itu dijebol untuk pembangunan sekitar 50 tiang pancang beton Pusat Informasi Majapahit (PIM).

Berdasarkan pantauan pada Minggu (4/1), di beberapa titik, fondasi dari campuran batu kali dan semen telah berdiri di parit-parit galian di situs bersejarah itu. Fondasi tiang beton juga sudah berdiri di beberapa titik. Di sekitarnya, batu bata kuno berukuran besar dan berwarna kehitaman peninggalan zaman Majapahit dibiarkan berserakan.

Wakil Bupati Mojokerto Wahyudi Iswanto saat dikonfirmasi hari Minggu mengatakan, pembangunan PIM sepenuhnya proyek pemerintah pusat. Pemkab Mojokerto dalam hal ini sekadar mengikuti apa yang menjadi keinginan dan kebijakan pemerintah pusat.

Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Provinsi Jawa Timur I Made Kusumajaya mengakui bahwa metode pembuatan fondasi dengan cara menggali tanah memang semestinya tidak dilakukan karena akan merusak situs sejarah dalam jumlah banyak. Sekalipun begitu, ia memastikan sejumlah cor beton maupun batu kali yang sudah terpasang untuk fondasi tidak akan diangkat lagi.

Untuk pembangunan selanjutnya akan digunakan sekitar 50 tiang pancang beton berdiameter 50 sentimeter yang akan dipasang dengan cara dibor, bukan dengan hydraulic hammer (pemukul tiang pancang beton) untuk meminimalkan kerusakan situs bersejarah.

Merusak atau kerusakan situs sejarah yang ditimbulkan dari pembangunan PIM yang merupakan bagian dari Taman Majapahit (Majapahit Park), imbuh Made Kusumajaya, memang tak bisa dihindari. ”Semua itu untuk mencapai tujuan Majapahit Park sebagai sarana edukatif dan rekreatif,” kata Made Kusumajaya.

Cungkup Surya

Majapahit Park adalah proyek untuk menyatukan situs-situs peninggalan ibu kota Majapahit di Trowulan dalam sebuah konsep taman terpadu. Tujuannya untuk menyelamatkan situs dan benda cagar budaya dari kerusakan serta untuk menarik wisatawan.

PIM sendiri nantinya akan berupa bangunan berbentuk bintang bersudut delapan yang disebut Cungkup Surya Majapahit, lambang Kerajaan Majapahit.

Rencananya, di bawah Cungkup Surya Majapahit itu akan dipamerkan sejumlah koleksi PIM yang belum banyak terekspos. Pengunjung juga bisa berjalan di atas ubin kaca dan melihat langsung struktur bangunan Majapahit yang berada di bawahnya.

Lebih Dahsyat

Kepala Museum Trowulan Aris Soviyani mengatakan, kerusakan situs Trowulan akibat industri rakyat pembuatan batu bata justru jauh lebih hebat. ”Selama bertahun-tahun, tak ada solusi terhadap persoalan itu,” ujarnya.

Hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menunjukkan, sekitar 6,2 hektar lahan di situs Trowulan rusak setiap tahunnya untuk pembuatan batu bata rakyat.

Masyarakat menggali tanah untuk pembuatan batu bata karena tak ada penghasilan alternatif. Masyarakat juga berharap saat menggali tanah bisa menemukan benda-benda bersejarah yang kemudian bisa dijual.

Secara terpisah Made Kusumajaya mengatakan, selama berpuluh-puluh tahun, situs sejarah Majapahit seolah hanya menjadi milik komunitas arkeolog. Situs itu hanya digali dengan metode tertentu untuk kemudian ditutup lagi dengan alasan konservasi.

Ia menekankan, sebagai seorang arkeolog, dia tidak bisa terlalu egoistis dengan keinginan tunggal untuk tetap terus mempertahankan situs sejarah itu tidak diketahui orang banyak.

Proyek Borobudur

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef yang pernah memimpin proyek UNESCO memugar Candi Borobudur, yang ditemui Minggu, menyesalkan adanya pembangunan fisik yang merusak situs Trowulan. ”Trowulan merupakan salah satu bukti kita memiliki nenek moyang dengan peradaban tinggi tidak kalah dengan bangsa-bangsa di Eropa,” katanya.

Menurut Joesoef, seharusnya pola konservasi Borobudur yang menggandeng UNESCO dapat diterapkan untuk Trowulan. Proyek Borobodur tahun 1978-1983 yang didukung UNESCO mampu mengalahkan usulan proyek konservasi Mohenjo Daro di Pakistan dan konservasi Venesia, Italia, kala diajukan dengan serius oleh Pemerintah Indonesia.

Proyek Borobudur didukung penuh Pemerintah Belanda, Jepang, Perancis, Jerman, dan negara-negara Eropa lain.

Meskipun demikian, Joesoef menyayangkan perawatan Borobudur yang diganggu kepentingan bisnis dan individu.

Sesuai ketentuan UNESCO, kata Joesoef, kawasan sekitar Borobudur dibagi dalam tiga ring pelestarian. Kini dalam ring satu sudah ada bangunan milik seorang perempuan pengusaha. Sejumlah menara pemancar telepon seluler juga dibangun di kawasan sama.

”Jangan sampai status warisan dunia dicabut oleh UNESCO karena kita dinilai tidak bisa dipercaya. Kalau sudah begini, bagaimana mau merawat situs Trowulan dan mendapat kepercayaan internasional,” kata Joesoef yang awal dekade tahun 1970-an melobi UNESCO di Paris untuk menyelamatkan Borobudur.

Setelah sukses memugar Borobudur, kata Joesoef, Indonesia dipercaya untuk membantu pemugaran kompleks Candi Angkor Wat di Kamboja. Ketika itu para arkeolog Indonesia disegani di kalangan dunia internasional.

Situs Trowulan tersebut memiliki tarikh Masehi yang sama dengan Istana Louvre di Paris, yakni sekitar abad ke-12 Masehi hingga ke-14 Masehi. Kini di atas situs Trowulan dibangun megaproyek yang menutup areal ekskavasi arkeologi Majapahit yang menjadi bukti kebesaran nenek moyang bangsa Indonesia (prima/Kompas)